Yogyakarta – Gagasan mengenai Kalender
Hijriah Global Tunggal (KHGT) seringkali berbenturan dengan kesiapan psikologis
dan pemahaman sosiologis masyarakat. Isu krusial inilah yang dibawa oleh
delegasi dosen Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar saat menghadiri Halaqah KHGT
Nasional di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Kamis (14/5/2026).
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H.
Syamsul Anwar, M.A., tampil sebagai narasumber utama dan menyampaikan berbagai
gagasan penting terkait pengembangan Kalender Hijriyah Global Tunggal untuk
peradaban Islam.
Kegiatan ini, juga diikuti oleh sekitar 70
peserta dari berbagai simpul wilayah Indonesia—dari Medan hingga
Yogyakarta—forum ini menjadi saksi bedah akademis yang tajam oleh tim peneliti
Makassar.
Melalui judul "Dekonstruksi Parameter
Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dalam Menghadapi Distorsi dan Resistensi
Pemahaman Publik di Indonesia", Tim Prodi Falak yang terdiri dari Hikmatul
Adhiyah Syam, M.H., Dr. Rasywan Syarif, dan Dr. Alimuddin menawarkan pisau
analisis dekonstruktif. Mereka berargumen bahwa keberhasilan kalender global
tidak hanya bertumpu pada akurasi hisab dan astronomi, melainkan pada
keberhasilan kita meruntuhkan dinding resistensi informasi di tengah publik.
Dalam pemaparannya, tim presenter menggarisbawahi
pentingnya melakukan dekonstruksi terhadap parameter KHGT. Langkah ini dinilai
krusial untuk menjembatani celah komunikasi ilmiah dan meredam resistensi serta
distorsi informasi yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia terkait
pemberlakuan kalender global tunggal.
Halaqah ini diharapkan mampu
menghasilkan rekomendasi-rekomendasi konkret, baik secara astronomis (ilmu falak) maupun pendekatan
sosiologis, guna mematangkan kesiapan umat Islam di Indonesia dalam menyongsong
unifikasi kalender global yang harmonis.