Menyebut salaf -terutama Sahabat Nabi- yang terlintas adalah kaku,
hati-hati dan sederhana. Hati-hati dan sederhana boleh jadi benar tapi kaku
sama sekali tidak. Penelusuran data sejarah menemukan bahwa para sahabat Nabi
tidak selalu memahami agama secara sempit dan kaku. Mereka justru dikenal
sebagai generasi yang sangat kreatif, kontekstual, dan berorientasi pada
kemaslahatan, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar Islam. Inilah yang dalam
istilah kekinian dapat dipahami sebagai penerapan pendekatan Makro yang
merupakan fitur penting maqasid Based: beragama dengan melihat tujuan besar
syariat, bukan hanya terpaku pada bentuk lahiriah teks.
Salah satu contoh paling terkenal adalah keputusan Umar ibn Khattab tentang
hukuman potong tangan bagi pencuri. Dalam Al-Qur’an, hukuman tersebut
disebutkan secara jelas. Namun, pada masa paceklik dan kelaparan hebat, Umar
menangguhkan penerapan hukuman itu. Alasannya sederhana: banyak orang mencuri
bukan karena niat jahat, tetapi karena terpaksa untuk bertahan hidup. Umar
melihat bahwa tujuan hukum Islam adalah menjaga keadilan dan melindungi
manusia, bukan sekadar menjalankan teks secara literal. Ini contoh nyata
pendekatan Makro: teks tidak ditabrak, tetapi dipahami dalam kerangka tujuan
besarnya.
Contoh lain dapat kita lihat pada masa pengumpulan mushaf Al-Qur’an. Pada
zaman Nabi, Al-Qur’an belum dibukukan dalam satu mushaf seperti sekarang.
Setelah Nabi wafat, banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam peperangan. Melihat
kondisi ini, Abu Bakr as-Siddiq menerima usulan untuk mengumpulkan Al-Qur’an
dalam satu kitab. Padahal, tidak ada perintah eksplisit dari Nabi untuk
melakukan hal tersebut. Namun, para sahabat melihat bahwa langkah ini sangat
penting demi menjaga keutuhan wahyu. Mereka menilai bahwa tindakan tersebut
sejalan dengan prinsip besar Islam: menjaga agama. Inilah pendekatan Makro
dalam bentuk yang sangat jelas.
Kisah lain datang dari sikap para sahabat dalam berdakwah kepada masyarakat
non-Arab. Mereka tidak memaksakan semua budaya Arab kepada umat Islam baru.
Selama suatu tradisi tidak bertentangan dengan ajaran Islam, tradisi tersebut
dibiarkan tetap hidup. Misalnya, cara berpakaian, pola makan, dan adat
pergaulan lokal tetap dipertahankan, dengan penyesuaian nilai. Para sahabat
memahami bahwa Islam datang untuk memperbaiki nilai, bukan menghapus seluruh
budaya.
Bahkan dalam praktik ibadah pun, para sahabat sering menunjukkan
fleksibilitas. Pernah suatu ketika, sebagian sahabat shalat Ashar di tengah
perjalanan, sementara sebagian lain menundanya sampai tiba di tujuan, karena
perbedaan pemahaman terhadap sabda Nabi. Ketika hal ini disampaikan kepada
Rasulullah, beliau tidak menyalahkan keduanya. Ini menunjukkan bahwa sejak awal
Islam membuka ruang perbedaan cara, selama tujuannya sama-sama taat kepada
Allah.
Semua contoh ini memperlihatkan bahwa para sahabat tidak memahami agama
hanya dengan pendekatan Mikro yang menuntut dalil spesifik untuk setiap
langkah. Mereka juga menggunakan pendekatan Makro: membaca realitas,
mempertimbangkan dampak, dan memastikan bahwa tindakan mereka sejalan dengan
tujuan besar Islam.
Pelajaran penting bagi kita hari ini adalah: jika para sahabat saja mampu
bersikap kontekstual tanpa kehilangan keteguhan iman, maka umat Islam masa kini
seharusnya juga mampu melakukan hal yang sama. Pendekatan Makro bukan berarti
meremehkan dalil, tetapi memahami dalil dalam bingkai tujuan dan kemaslahatan.
Dengan meneladani cara berpikir para sahabat, kita dapat menghadirkan Islam
yang ramah, solutif, dan relevan. Islam yang tidak hanya sibuk menghakimi
bentuk, tetapi sungguh-sungguh menghadirkan kebaikan bagi kehidupan.
By
Prof. Dr. H. Abd Rauf Muhammad
Amin, Lc., M.A
Dekan FSH UIN Alauddin